Suku Osing Banyuwangi dan Tiga Tradisi Uniknya

Buat kamu orang Jawa, pasti sudah tidak asing dengan yang namanya tradisi. Banyak tradisi yang unik dan masih dilestarikan hingga saat ini di pulau Jawa. Termasuk di ujung pulau Jawa paling Timur, tepatnya di Banyuwangi terdapat sebuah suku yang masih menjaga tradisi adatnya hingga saat ini yaitu Suku Osing.

Suku Osing atau suku Using merupakan penduduk asli yang mendiami Banyuwangi. Dari cerita masyarakat yang beredar, suku Osing merupakan keturunan  rakyat dari Kerajaan Blambangan yang mengasingkan diri pada era Majapahit. Pada abad ke 19, banyak pendatang yang menetap di daerah Banyuwangi dan memberikan nama atau sebutan Osing.

Osing sendiri memiliki makna “tidak”, penamaan ini berasal dari sikap warga yang pada saat itu menolak pengaruh luar. Turunan bahasa Jawa kunio lah digunakan sebagai bahasa keseharian suku ini, atau disebut juga dengan bahasa Osing.

Masyarakat Osing kala itu secara umum beragama Hindu dan Budha, yang kemudian mereka beratih kepercayaan menjadi Islam setelah berkembangnya kerajaan Islam. Hinga saat ini, dengan kondisi yang sudah modern dan teknologi yang juga berkembang pesat suku ini masih mempertahankan budaya tradisionalnya. Salah satu daerah di Banyuwangi yang masih kuat memegang tradisi Osingnya adalah di Desa Adat Kemiren, Banyuwangi, Jawa Timur.

Diantara banyak tradisi yang masih dijalankan oleh suku ini, berikut tiga tradisi yang masih bisa kamu saksikan dan cukup menarik perhatian para wisatawan baik domestik maupun luar negeri.

1. Tradisi Mepe Kasur

Tradisi yang cukup unik di lingkungan suku Osing yang pertama adalah Mepe Kasur yang berarti Menjemur Kasur. Biasanya pada umumnya masyarakat kita menjemur kasur ketika kasur basah, hal ini tidak dengan suku Osing. Tradisi ini dilakukan oleh suku Osing secara rutin bersama-sama saat acara slamatan desa, tepatnya pada bulan Dzulhijjah.

Suku Osing mempercayai bahwa tradisi ini dapat menjaga kerukunan dan semangat kerja dalam rumah tangga. Pada hari perayaan, secara bersamaan seluruh warga desa akan menjemur kasur. Kekompakan dan kerukunan terlihat dari kasur yang digunakan oleh masyarakat yang memiliki waena serupa yaitu warna merah dan hitam. Dua warna tersebut menurut mereka melambangkan tolak bala dan kelanggengan keluarga.

2. Tumpeng Sewu

Tradisi tumpeng sewu merupakan tradisi makan bersama-sama dalam satu tempat. Perayaan tumpeng sewu dirayakan oleh suku Osing karena dipercaya dapat menjauhkan dari mala petaka. Tradisi ini rutin dilakukan daat bulan Dzulhijjah atu biasa masyarakat disana menyebutnya Bulan Haji. Masyarakat Osing meyakini apabila upacara Tumpeng Sewu ini tidak dijalankan maka musibah akan menimpa wilayah tempat tinggal mereka.

Dalam upacara Tumpeng Sewu, banyak sekali makanan yang dihidangkan, tentunya ada makanan khas Banyuwangi yang tak mungkin ketinggalan yaitu pecel pithik atau ayam panggang yang dimasak dengan bumbu khas suku Osing yang dicampur dengan parutan kelapa.

3. Barong Ider Bumi

Barong ider bumi merupakan tradisi suku Osing yang dilakukan dengan membentuk kelompok barongan kemudian bersama-sama mengitari desa dari ujung hingga ujung, digelar dalam bentuk arak-arakan barong seperti karnaval.

Kemudian saat karnaval berlangsung, masyarakat lainnya melempari peserta yang menjadi barongan dengan uang logam atau koin. Tradisi ini rutin dilakukan sertiap hari ke dua bulan syawal. Menurut cerita dari masyarakat, tradisi ini dilakukan oleh suku Osing untuk menolak bala dimana dulu suku Osing pernah dilanda kemarau yang panjang kemudian tradisi ini dilakukan agar musim kemarau pergi dan akhirnya warga bisa mendapatkan air yang cukup untuk mengairi sawah tepat pada waktunya.

Komentar