Mengenal Tari Gandrung Yang Mendunia

suarabanyuwangi.com - Tari Gandrung merupakan salah satu tradisi Banyuwangi yang mendunia. Kesenian ini menggambarkan kisah heroik perjuangan rakyat Blambangan saat melawan penjajahan kolonial jaman dahulu. Tari ini muncul setelah kekalahan  yang dialami rakyat Blambangan saat melawan VOC.

Kesenian ini awalnya digunakan sebagai pemersatu rakyat Blambangan yang terpecah akibat kekalahan itu. Pada awalnya, Gandrung dibawakan oleh kaum pria yang berdandan seperti wanita. Seiring waktu dan perubahan zaman, Tari Gandrung kini dibawakan oleh kaum wanita.

Salah satu kesenian khas yang menjadi icon Kabupaten Banyuwangi, tari yang masih satu aliran dengan Jaipong (Jawa Barat) dan Ronggeng (Jawa Tengah) ini menjadi hiburan rakyat di acara-acara hajatan dan kegiatan kebudayaan. Tari Gandrung biasanya disuguhkan dalam menyambut musim panen raya, resepsi pernikahan, khitanan, serta seremonial lainnya. Tarian ini ditampilkan sebagai penghargaan bagi para hadirin dan tamu undangan.

Busana penari Gandrung pada masa kini terdiri dari penutup badan, bawahan, dan hiasan kepala. Bagian badan penari Gandrung ditutupi bahan beludru berbenang emas dan berselendang. Untuk kostum bagian bawah, biasanya menggunakan jarik (kain) batik, dengan motif yang paling umum adalah corak Gajah Oling sebagai ciri khas banyuwangi. Sebagai hiasan kepala, digunakan omprok, semacam mahkota dari kulit kerbau dengan ornamen berwarna. Selain itu, biasanya penari Gandrung membawa 1-2 buah kipas untuk dibawa.

Pada setiap tahunnya, warga Banyuwangi, mulai dari seniman cilik hingga tua menggelar pertunjukkan Tarian Gandrung Sewu guna terus menjaga kelestarian tradisi tersebut hingga saat ini. (MM) 

 


 

Komentar