Kisah Arifin, Dari Tukang Sampah Sampai Menjadi Kepala Desa

Pemilihan kepala desa di Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi memiliki cerita yang cukup unik. Setelah proses penghitungan selesai, muncullah nama Mohamad Arifin sebagai pemenang, dia pun akan menjadi kepala desa Kemiren selanjutnya.

Mohammad Arifin (36), adalah seorang petugas kebersihan desa, tugasnya mengambil sampah di setiap rumah penduduk. Banyak yang tidak menyangka dia akan menjadi pemimpin desa Kemiren selanjutnya.

Arifin pun mengaku dia masih tak percaya dengan hal ini, dia merasa dirinya belum memiliki banyak pengalaman. Apalagi menurutnya dua calon lainnya lebih memiliki kemungkinan yang lebih besar dibandingkan dirinya.

Tiga tahun terakhir, Arifin bekerja sebagai seorang petani yang juga sekaligus bertugas sebagai Tim Kebersian Desa (TKD), dia memulai pekerjaan sebagai tukang sampah pada tahun 2016. Saat itu, dengan semakin banyaknya wisatawan yang datang ke Kemiren, semakin banyak pula sampah yang dihasilkan disana.

Untuk mengatasi sampah yang semakin banyak, pemerintah desa kala itu berusaha untuk menggalakkan pengelolaan sampah. Salah satunya adalah dengan pengambilan sampah secara rutin tiap hari. Ternyata, di saat pemilihan petugas untuk mengangkut sampah, tidak ada satu orang pun orang yang bersedia.

Karena khawatir program yang telah direncanakan tersebut tidak berjalan, Arifin pun akhirnya bersedia mengambil tugas sebagai orang yang mengumpulkan sampah setiap harinya. Saat itu dia sudah menjabat sebagai ketua Bumdes. Rata-rata, sebanyak 400 kilogram sampah per hari yang dia angkut menuju tempat pembuangan sampah.

Arifin tak pernah berfikir dirinya akan mengikuti Pilkades di desa tersebut. Ide untuk turun di Pilkades muncul setelah dia sering berkumpul dengan beberapa pemuda, mereka biasa ngopi bareng. Suatu hari, pada pemuda tersebut mendorong Arifin untuk mengikuti Pilkades.

Arifin awalnya mengira hal ini hanya gurauan saja, dia pun tidak terlalu menanggapinya. Namun beberapa hari kemudian, beberapa orang warga datang ke rumahnya dan mendorongnya untuk maju dalam pemilihan kepala desa. Semakin hari, ternyata semakin banyak orang yang datang ke rumahnya untuk memintanya mengikuti kontestasi pilkades.

Karena semakin banyak yang mendorongnya, Arifin pun kemudian meminta pendapat istrinya. Istrinya pun menyuruhnya untuk mencoba, supaya tidak mengecewakan para warga yang mendatanginya. Dia pun kemudian memberanikan diri untuk mengikuti Pilkades di Kemiren tanggal 9 Oktober lalu.

Arifin mengaku bahwa dirinya benar-benar pasrah, sejak awal tak pernah kepikiran untuk mengikuti Pilkades, apalagi sampai menang. Bahkan ketika dirinya diumumkan sebagai peraih suara terbanyak, dia saat itu sedang mencari rumput untuk kambingnya.

Bapak satu anak itu baru mengetahui bahwa dirinya yang terpilih sebagai kepala desa, saat dia bertemu seorang warga di warung yang mengatakan bahwa dia menjadi pemenang.

“Waktu itu saya sampai kaget dan gemetar. Siapa yang percaya, dibandingkan yang lain saya ini tidak punya latar belakang masalah politik dan birokrasi,” tuturnya.

Setelah diumumkan sebagai pemenang, beberapa pendukung Arifin saat itu sudah bersiap-siap untuk mengaraknya keliling desa, namun dia menolak. Menurutnya, tak seharusnya merayakan kemenangan dengan cara yang berlebihan, dia khawatir itu akan membuat perpecahan antara dirinya dan calon kepala desa yang lain.

Karena sebelumnya dia adalah tukang sampah, Arifin berniat untuk memaksimalkan program-program kebersihan sebagai hal yang diprioritaskan saat dia memimpin nanti. Selain itu, dia juga akan mengadakan program pengelolaan air di Kemiren.

“Kalau bebas dari sampah, wisatawan juga jadi senang. Selain itu sampah juga bisa membuka lapangan pekerjaan,” paparnya.

Dari kisah ini ada satu pelajaran yang bisa kita ambil, yaitu bahwa siapa saja bisa untuk menjadi seorang pemimpin.

Komentar